Artikel
Keunikan Logat Nias: Huruf Akhir yang Hilang
2026-05-25 15:01:58 | 57 kali dibaca
Ada sebuah kondisi yang unik dan lucu ketika sebagian orang Nias berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Mereka sering menghilangkan huruf penutup pada kata-kata tertentu. Mereka dalam hal ini adalah sebagian orang Nias yang belum terbiasa menggunakan bahasa Indonesia, seperti orang-orang dari daerah atau kampung yang tingkat pendidikannya masih rendah, atau yang dalam kesehariannya jarang menggunakan bahasa Indonesia.
Ketika mereka mulai menggunakan bahasa Indonesia, misalnya saat merantau ke luar Nias seperti ke Pulau Sumatera, logat dan cara berbicara mereka terdengar sangat khas, unik, dan terkadang lucu. Salah satu ciri khasnya adalah sering menghilangkan huruf penutup pada setiap kata, terutama kata yang berakhiran huruf mati (konsonan).
Contohnya:
- “makan” sering diucapkan menjadi “maka”
- “kacang” diucapkan menjadi “kaca”
- “tambah” diucapkan menjadi “tamba”
- “Saya makan kacang berdua dengan abangku.”
Diucapkan menjadi:
“Saya maka kaca berdua denga abanku.” - “Kamu senang gak kalau ku kirim pulsamu?”
Diucapkan menjadi:
“Kamu sena kalau kirim pulsamu ba?”
Hal ini terjadi karena tata bahasa Nias atau Li Niha pada umumnya tidak mengenal akhiran huruf konsonan pada setiap kata. Sebagian besar kata dalam bahasa Nias diakhiri dengan huruf hidup (vokal).
Contohnya: “Na so khöda wa'omasi ba dodo, ba tasondra howu-howu.”
Artinya: “Kalau ada kasih dalam hati, maka kita akan mendapatkan berkat.”
Bagi sebagian orang, cara berbicara seperti ini mungkin terdengar lucu atau bahkan memalukan. Namun sebenarnya, hal ini merupakan sebuah keunikan dan kekhasan tersendiri, karena bukan dibuat-buat. Cara berbahasa Nias terbawa ketika menggunakan bahasa Indonesia, sehingga hasil pengucapannya menjadi seperti itu.
Bagi saya pribadi, hal ini bukan sesuatu yang memalukan dan bukan pula sebuah kekurangan, melainkan sebuah keunikan budaya dan identitas bahasa. Namun demikian, kemampuan berbahasa Indonesia tetap perlu terus ditingkatkan melalui proses belajar, terutama sejak dini melalui jalur pendidikan.
Karena itu, mari kita jadikan hal ini sebagai sesuatu yang positif, khususnya bagi masyarakat Nias, agar kemampuan literasi dan keterampilan berbahasa Indonesia semakin meningkat. Hal ini juga dapat menjadi perhatian pemerintah daerah, khususnya dinas pendidikan, untuk terus meningkatkan kemampuan masyarakat Nias dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Dan sekali lagi perlu ditegaskan bahwa tidak semua orang Nias berbicara seperti ini. Fenomena ini umumnya terjadi pada orang-orang yang belum terbiasa menggunakan bahasa Indonesia, terutama mereka yang tinggal di lingkungan yang sehari-harinya jarang, bahkan hampir tidak pernah, menggunakan bahasa Indonesia.
Mari kita tetap melestarikan bahasa Nias, Li Niha, dan jangan pernah malu menggunakannya, karena kita memiliki bahasa sendiri sebagai identitas dan kekayaan budaya yang istimewa.
Ditulis oleh: Harkat C. Zamasi.
→ Lihat lebih banyak lagi
Sofõna bagawu, sofõna baene talau fabalu-balu lahe