Artikel

Bahasa Bele-Bele: Fenomena Bahasa Gaul Masyarakat Nias

2026-06-02 22:03:05 | 25 kali dibaca

Bahasa selalu berkembang mengikuti perubahan sosial dan budaya masyarakat penuturnya. Di Indonesia, salah satu contohnya adalah bahasa alay, yaitu ragam bahasa tidak baku yang populer di kalangan remaja dan anak muda. Meskipun sering dianggap sebagai bahasa gaul, fenomena ini menunjukkan bagaimana generasi muda menciptakan identitas dan gaya komunikasi mereka sendiri.

Fenomena yang serupa dapat ditemukan di Pulau Nias melalui penggunaan bahasa bele-bele, sebagai ragam bahasa informal yang banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa bele-bele merupakan bentuk komunikasi yang memadukan unsur-unsur Bahasa Indonesia dan Bahasa Nias. Pencampuran tersebut tidak hanya terjadi pada kosakata, tetapi juga pada partikel, struktur kalimat, dan intonasi khas Bahasa Nias. Akibatnya, terbentuk pola tutur yang unik dan mudah dikenali oleh masyarakat Nias.

Sebagai contoh:

1. "Bisa wa aku jalan bapa"
kata wa berasal dari Bahasa Nias.
arti dalam Bahasa Indonesia: "Saya bisa berjalan kok, Pak."

2. "Kalau tidak ada nanti ba kita pulang saja nanti"
partikel ba berasal dari Bahasa Nias.

3. "Hadia manö göi itu e"
klausa Bahasa Nias dipadukan dengan kata Indonesia itu.

4. "Nanti sakit kepalamu"
Secara struktur mengikuti pola Bahasa Nias. Dalam Bahasa Indonesia baku lebih lazim menjadi:
"Kepalamu nanti sakit" atau
"Nanti kepalamu sakit."

5. "Puji Tuhan sudah dia telpon kami"
Struktur kalimat mengikuti pola Bahasa Nias walaupun semua katanya berasal dari Bahasa Indonesia.

Bahasa bele-bele umumnya digunakan dalam situasi santai dan akrab, seperti di lingkungan keluarga, pertemanan, kekerabatan, dan ketetanggaan. Di kalangan anak muda dan remaja Nias, bahasa ini bahkan menjadi salah satu cara berkomunikasi yang paling umum dalam percakapan informal. Karena digunakan secara luas dan diwariskan dari generasi ke generasi, bahasa bele-bele telah menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat Nias.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rebecca Evelyn Laiya (2021), kemunculan bahasa bele-bele memiliki kemiripan dengan proses terbentuknya bahasa pijin (pidgin) yang kemudian berkembang menjadi kreol (creole). Bahasa ini muncul dari kebutuhan masyarakat Nias untuk berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia, tetapi tetap mempertahankan ciri-ciri linguistik Bahasa Nias dalam tuturan mereka.
Bahasa pijin adalah bahasa sederhana yang muncul ketika dua kelompok masyarakat yang berbeda bahasa perlu berkomunikasi, tetapi tidak memiliki bahasa yang sama. Sedangkan, Bahasa kreol adalah bahasa pijin yang berkembang lebih lanjut dan menjadi bahasa ibu bagi suatu komunitas.

Bahasa bele-bele menunjukkan bahwa bahasa tidak bersifat statis, melainkan terus beradaptasi sesuai kebutuhan penuturnya. Oleh karena itu, bahasa ini dapat dipandang sebagai salah satu bentuk dinamika linguistik yang mencerminkan kemampuan masyarakat Nias untuk berinteraksi dengan dunia modern tanpa sepenuhnya meninggalkan akar budaya dan bahasanya sendiri.

Bahasa bele-bele tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi Li Niha, melainkan sebagai fenomena sosial-bahasa yang tumbuh secara alami di tengah masyarakat multilingual. Namun demikian, pelestarian Li Niha tetap menjadi hal yang penting agar generasi muda Nias tidak kehilangan kemampuan berbahasa daerahnya. Bahasa bele-bele dapat hidup sebagai bahasa pergaulan sehari-hari, sementara Li Niha tetap dipelihara sebagai warisan budaya, identitas etnis, dan bahasa ibu masyarakat Nias.

Referensi:
Laiya, R. E. (2021). Bahasa Bele-Bele (Studi Ragam Bahasa Informal di Pulau Nias). Prosiding Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya (KOLITA 19), Jakarta, 13–15 Juli 2021.

Ditulis oleh: Harkat C. Zamasi.

Lihat lebih banyak lagi

Aoha noro nilului wahea, aoha noro nilului waoso, alisi tafadayadaya, hulu tafaewolowolo

Pekerjaan atau masalah yang diselesaikan bersama-sama akan lebih mudah dituntaskan