Artikel

Hoho: Sastra Lisan Masyarakat Nias

2026-06-05 13:26:23 | 45 kali dibaca

Masyarakat Nias telah lama memiliki tradisi sastra kuno yang disebut Hoho. Sastra lisan ini berbentuk puisi yang dilantunkan atau dinyanyikan pada berbagai upacara adat, seperti owasa (pesta besar), pesta pernikahan, peresmian rumah baru, perayaan kelahiran anak, upacara kematian, serta berbagai ritual adat lainnya.

Dalam acara-acara tersebut, biasanya diadakan atraksi molaya (tarian tradisional). Pertunjukan molaya ini diiringi oleh pelantunan hoho yang diucapkan secara bergantian oleh para tetua adat.

Salah satu contoh penggunaan sastra lisan ini adalah hoho "Mamaheu Omo" yang dilantunkan saat ritual menempati rumah baru. Syair hoho ini mengandung makna doa mendalam agar keluarga yang akan mendiami rumah tersebut senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan keberkahan.

Syair Hoho: Mamaheu Omo

Faheu nomo wadögö-dögö = Marilah kita goyang rumah
Faheu nomo fanigaolo = Goyang rumah dan pusing atau putar ke kiri dan ke kanan
Lambi-lambi döla geu = Cendawan pokok kayu
Tambaelo döla gehomo = Cendawan tonggak rumah

Secara harfiah, Mamaheu omo berarti "menggoyang rumah". Ritual dan syair ini ditujukan untuk menguji apakah rumah adat yang baru dibangun tersebut benar-benar kokoh, kuat, dan aman untuk ditempati.

Referensi:
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Struktur Bahasa Nias. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Ditulis oleh: Harkat C. Zamasi.

Lihat lebih banyak lagi

Halõ khõu sihahalõ na õila õhalõ, foto khõu sididoro na õila õdoro.